VISI SURVEILAN DINKES TASIKMALAYA

MENJADI SDM SURVEILAN YANG PROFESIONAL DAN BERDEDIKASI TINGGI

Friday, 1 October 2010

PENDEKATAN KLINIK ACUTE ONSET OF FLACCID PARALYSIS

1. Pendahuluan
Diiperlukan suatu surveilans untuk menentukan apakah masih ada kasus klinik kelumpuhan karena virus polioliar. Untuk itu, dilakukan deteksi terhadap seluruh kasus yang mengalami Acute Onset of Flaccid Paralysis yang sering disebut dengan akronim AFP atau lumpuh layu Akut. AFP merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab. Secara klinis, kasus AFP yang berat dapat dikenal dengan mudah, sedangkan kasus yang ringan lebih sulit dikenal.
2. Kelumpuhan : flasid dan spastik
Kelumpuhan adalah berkurangnya kekuatan otot untuk menggerakkan anggota badan dan kelumpuhan total disebut sebagai paralisis, sedangkan kelumpuhan parsial disebut sebagai paresis. Kekuatan otot harus ditentukan derajat kekuatannya dan menurut Lovetts digunakan skala Council sebagai berikut:
5 : kekuatan otot normal, tidak ada kelumpuhan, mampu melawan beban maksimal(Normal)
4 : kekuatan otot tersebut mampu melawan gaya gravitasi dan beban (Good)
3 : terdapat kontraksi otot yang mampu menggerakkan sendinya dan mampu melawan
gravitasinya (Fair)
2 : terdapat pergerakan sendi seluas gerak sendinya akibat kontraksi otot penggerak utama
sendi yang bersangkutan, tetapi dengan menghilangkan gaya gravitasinya (Poor)
1 : tidak ada pergerakan sendi tetapi teraba/tampak adanya kontraksi otot (Trace)
0 : tidak ada kontraksi sama sekali (Zero)
AFP adalah sindroma klinik dengan berbagai penyebab. Para klinisi harus dapat mendeteksi
kelumpuhan / kelemahanyang menjadi dasar kasus AFP

Pendekatan Klinik AFP
Pemeriksaan Manual Muscle Test [MMT] sangat bermanfaat didalam penentuan diagnosa derajat kelumpuhan apapun sebabnya.
Tonus
Tonus otot adalah tahanan muskuler ( diluar pengertian penyakit sendi dan gaya gravitasi); yang dirasakan oleh pemeriksa bila melakukan manipulasi berupa gerakan sendisecara aktif pada seorang penderita . Tonus otot dikatakan normal apabila hanya dijumpai sedikit sekali tahanan pada
seluruh pergerakan sendi. Tonus otot yang berkurang bila tahanan gerakan yang dilakukan pemeriksa berkurang. Hilangtnya tonus otot yang jelas disebut sebagai tonus otot yang
flasid atau layu. Sedangkan hipertonia dikatakan bila tahanan otot meningkat, dapat berupa spastisitas atau rigiditas.
Kelumpuhan Lower Motor Neuron
Pada AFP didapatkan kelumpuhan yang flasid; yang kita kenal sebagai kelumpuhan lower motor neuron yang disebabkan lesi mulai dari motor neuron kornu anterior sampai ke saraf perifer. Kita kenal pula kelumpuhan upper motor neuron yang disebabkan kelainan pada jaras piramidalis dari kortek motorik
sampai dengan kornu anterior medulla spinalis.
III. Manifestasi Klinis AFP
Anak anak.
Beberapa pemeriksaan dapat dilalukan untuk rnembantu
menetapkan kondisi klinik penderita:
�� Dapat disertai demam atau tidak
�� Dapat disertai rasa nyeri atau tidak
�� Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah ia pincang atau tidak.
�� Mintalah anak berjalan pada ujung jari dan pada tumit, anak yang mengalami kelurnpuhan tidak dapat
melakukannya.
�� Mintalah anak berjongkok atau duduk dilantai, kemudian bangun kembali. Anak yang mengalami
kelumpuhan akan menunjukkan adanya tanda dari Gower yaitu rnencoba berdiri dengan
berpegangan dan merambat pada tungkainya.
�� Bila anak berbaring di tempat tidur, mintalah dia mengangkat kaki kemudian menahan tungkai diudara.
Dan mintalah untuk menggerakan pergelangan kaki & jari-jari kaki, pergerakan ujung jari ke arah
kepala.
�� Tungkai yang mengalami lumpuh layu mengecil. Bila tidak yakin ukurlah lingkar betis kanan dan kiri
pada ketinggian yang sama.
�� Refleks lutut dan pergelangan kaki berkurang atau negative demikian juga tidak dijumpai adanya retlek
patologis.
�� Kadang dapat disertai gangguan miksi dan defekasi.

Bayi
�� Dapat didahului dengan demam atau tidak. Rasa nyeri sulit diketahui.
�� Seringkali sulit mendeteksi apakah seorang bayi sedang mengalami kelumpuhan. Pendekatan Klinik
AFP
�� Perhatikan posisi saat tidur terlentang. Bayi normal menunjukkan tingkah
dalam posisi fleksi di dan di panggul. Bayi lumpuh menunjukkan frog leg position. Tungkai terkulai
lemas dan lutut menyentuh tempat tidur.
�� Perhatikan gerakan kedua tungkai. Bila terdapat kelumpuhan gerakan sisi tersebut kurang bila
Dibandingkan sisi yang sehat. Bila kelumpuhan terjadi pada kedua tungkai gerakan kedua tungkai
berkurang
�� Untuk merangsang gerakan dapat digelitik pada telapak kaki atau ditusuk
perlahan dengan benda yang agak tajam misalnya pensil. Bayi yang normal akan menarik kakinya.
�� Pegang kedua pergelangan dan gerakan kedua tungkai ke depan dan kebelakang. Rasakan perbedaan
ketegangan otot.
�� Angkat kedua tungkai dari permukaaan tempat tidur lalu lepaskan. Bayi normal akan memperlihatkan
sedikit tahanan sebelum tungkai jatuh ketempat tidur atau bahkan dapat menahan tungkai di udara.
Pada kelumpuhan, tungkai akan jatuh ke tempat tidur tanpa tahanan.
�� Lakukan uji pendulum. Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan Bayi normal memperlihatkan gerakan
simetris tungkai disertai sedikit f1eksi lutut dan pangkal paha. Bayi yang lumpuh memperlihatkan
tungkai tergantung lemas tanpa gerakan.
�� Lihatlah apakah dijumpai atrofi otot. Atrofi yang ringan sulit dilihat, gunakanlah pengukur untuk
mengukur lingkar betis pada ketinggian yang sama.
�� Reflek Iutut dan pergelangan kaki berkurang atau negatif; reflek Babinsky pada bayi < 18 bulan
kadang masih timbul.
IV. Penyebab AFP
AFP dapat terjadi pada:
-Acute anterior poliomyelitis
+Disebabkan karena virus polio
+Disebabkan karena virus neurotrophik lainnya: coxsackie virus, echovirus dan enterovirus 70 dan71
-Acute myopathy
+Proses Desak Ruang:pembuntuan mielum; misalnya akibat abses paraspinal; tumor atau hematoma
+Mielopati transvesus idiopati yang akut
-Peripheral neuropathy
+Guillain Barre syndroma
+Neuropati demielinating yang akut
+Neuropati aksonal yang akut
+Pasca pemberian vaksin rabies
+Neuropati dalam perjalanan penyakit seperti difteria, rabies, Lyme, borrelios, intoksikasi logam berat,
toksin biologis
AFP dapat terjadi akibat berbagai penyakit Penyakit sistemik
+Porpiria intermiten akuta +Neuropatia pada penyakit yang kritis
-Kelainan transmisi neuron akibat
+Miastenia gravis +Gigitan ular +Botulisrne +Intoksikasi insectisida +Tick paralisa
-Kelainan otot
+Miopathia Inflamasi yang Idiopatis +Trichinosis +Hipokalemia dan hiperkalernia paralisa, termasuk familial periodic paralysa.

No comments:

Post a Comment