VISI SURVEILAN DINKES TASIKMALAYA

MENJADI SDM SURVEILAN YANG PROFESIONAL DAN BERDEDIKASI TINGGI

Sunday, 26 December 2010

FLU BURUNG MENYEBAR DI JEPANG

Awas, Flu Burung Mulai Menyebar di Jepang!
Jepang mencatat sejumlah kasus baru penderita yang terinfeksi virus flu burung.
Sesuai dengan laporan televisi NHK Jepang, kantor kesehatan kota Izumi, barat daya Jepang mengkonfirmasikan adanya sejumlah kasus penderita flu burung di kota ini.
Para pejabat kesehatan kota Izumi mengumumkan, menyusul uji laboratorium pada bangkai 12 burung yang mati menunjukkan dua bagian dari mereka tewas akibat terinfeksi virus flu burung.
Bertambahnya dua kasus baru membuat jumlah keseluruhan kasus terinfeksi virus flu burung menjadi delapan kasus.
Awal bulan ini kota Izumi mencatat ada 6 kasus terinfeksi lewat virus flu burung. (IRIB/SL/PH)
  More arti

Saturday, 11 December 2010


Flu Burung/AI sampai saat ini masih menjadi masalah global maupun nasional. Sejak tahun 2003 sampai sekarang 31 dari 33 Provinsi di Indonesia telah dilaporkan tertular FB/AI, sedangkan pada manusia sejak Juni 2005 sampai dengan Agustus 2010 sudah dilaporkan ke WHO 167 kasus dengan jumlah kematian 139. Case Fatality Rate (CFR 83,23 %) yang tersebar di 13 Provinsi. Penemuan kasus AI pada manusia paling tinggi ditemukan : di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 46 kasus konfirmasi 39 diantaranya meninggal dunia, di Provinsi Jawa Barat sampai september 2010 sebanyak 41 kasus konfirmasi 36 diantaranya meninggal dunia yang tersebar di 14 Kabupaten/Kota.
Untuk mengantisipasi penyebaran yang tidak terkendali dan tidak terduga, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat telah mensosialisasikan tatalaksana Flu Burung di masyarakat dan telah melatih ± 2300 petugas puskesmas (Tiap puskesmas diwakili 2 orang petugas kesehatan). Melalui upaya pemantauan yang intensif terhadap perubahan sifat dan strain virus H5N1 sesuai Internasional Health Regulation (IHR 2005) dapat diamati melalui tanda-tanda atau sinyal epidemiologi, dan sinyal virologis sebagai konfirmasi telah terjadinya episenter pandemi.
Untuk meningkatkan sistim Surveilans penyakit Flu Burung yang berhubungan dengan hewan di komunitas masyarakat, Ministry Of Agriculture (MOA) telah mengembangkan Surveilans penyakit yang berhubungan dengan hewan dan respon melalui pendekatan partisipasi yang dinamakan Participatory Disease Surveilance and Response (PDSR). Petugas PDSR diperkerjakan ditingkat Kabupaten/Kota dan bekerja dekat dengan komunitas masyarakat. Dengan mengadaptasikan PDSR, Kementerian dalam negeri telah mengembangkan dan meluncurkan petugas District Surveilance Officers ( DSO) yang bertujuan untuk bekerja sama dengan petugas PDSR dalam hal berbagi informasi pemberantasan Flu Burung di masyarakat. Usaha ini dipercaya dapat mendeteksi secara dini adanya tersangka kasus Flu Burung pada masyarakat yang berisiko tinggi melalui pendekatan pendekatan partisipasi dan pencarian kasus secara aktif. Pengenalan lebih cepat pada tersangka Flu Burung sangat penting untuk pengobatan lebih cepat dan untuk mendapatkan keefektifitasan anti virus.
Pada tanggal 30 Agustus 2010 di Hotel Perdana Wisata telah dilaksanakan sosialisasi Flu Burung kepada Organisasi Profesi Wilayah Jawa Barat antara lain Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia ( PPNI) dengan pembicara dr. Vason dan dr. Marlinggom dari World Health Organization (WHO), Subdit Zoonosis Kementerian Kesehatan, Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dengan sumber dana berasal dari bantuan WHO Italia.
WHO berharap setelah dilaksanakannya pertemuan ini organisasi profesi dapat mensosialisasikan tatalaksana penanggulangan FB/AI serta berperan dalam penanggulangan FB/AI dengan mengenali kasus (Early Diagnosis), penatalaksanaan kasus, rujukan kasus, melaporkan kasus serta menanggapi kasus.
Untuk itu, dalam upaya mencegah terjadinya kematian akibat penyakit Flu Burung, Puskesmas sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat perlu disiagakan dengan menempatkan obat anti Oseltamivir guna pengobatan dini terhadap suspek/tersangka Flu Burung.
Ini merupakan Pertemuan lanjutan yang dilaksanakan tanggal 31 agustus 2010 di Hotel perdana Wisata kerjasama dinas Kesehatan dengan Organisasi Profesi  ( IDI, PPNI) wilayah jawa Barat dan sejauhmana  Peranan Organisasi profesi dalam penanganan  Avian Influenza (H5N1). Jawa Barat merupakan pelintasan pemasok ternak terutama Ayam  ke Jakarta untuk itu Dinas Peternakan sudah melakukan strategi untuk menekan/meniadakan resiko timbulnya AI pada unggas seperti Pengendalian transportasi unggas dan produk asal unggas, Biosekuriti ketat pada semua aspek manajemen peternakan, Vaksinasi dengan menggunakan vaksin yang berkualitas dan melihat dinamika virus AI Indonesia, Mengembangkan pasar tradisional yang higienis, Sosialisasi dengan metoda yan mudah diterima dan dapat diterapkan oleh masyarakat (KIE), Pola hidup sehat dan bersih dll.
Jawa Barat merupakan wilayah yang potensial dalam penyebaran AI Pada unggas,  karena   Populasi unggas tinggi dengan rapid test positif tapi tidak ada penularan pada manusia, kasus suspek sampai September 2010 di Jawa Barat sebanyak 6 kasus, 2 diantaranya meninggal dan tidak ada kontak.
Penyebaran geografik penderita ’’Flu Burung’’ pada manusia  di Indonesia tahun 2010 kasus konfirmasi 6 kasus meninggal 5  yang tersebar di 5 Provinsi antaralain  DKI Jakarta 2/2, Banten 1/1, Riau 1/1, Jateng 1/1, Jatim 1/0.
Kebanyakan pasien mencari pertolongan pertama ke klinik / praktek swata à Shopping Treatment akhirnya kasus terlambat diketahui (± 6 hari) —- CFR tinggi (dr. Vason dan dr. Marlinggom) dari WHO.
Sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
Breaking News: “Sebelumnya pada Selasa (9/11) Kementerian Haji Arab Saudi memberitakan seorang perempuan asal Eopa, 26 th, dan seorang wanita lainnya, 56th, asal Asia Selatan positif terkena flu A H1N1. Seorang yang lain, pria asal Afrika, 41th terkena kolera. Kedua pasien flu burung saat ini dirawat di rumah sakit. Sementara satu yang lain sudah dapat keluar dari rumah sakit.”
Influenza A (H1N1) virus is a subtype of influenza A virus and was the most common cause of human influenza (flu) in 2009. Some strains of H1N1 are endemic in humans and cause a small fraction of all influenza-like illness and a small fraction of all seasonal influenza. H1N1 strains caused a few percent of all human flu infections in 2004–2005.[1] Other strains of H1N1 are endemic in pigs (swine influenza) and in birds (avian influenza).
In June 2009, the World Health Organization declared the new strain of swine-origin H1N1 as a pandemic. This strain is often called swine flu by the public media. This novel virus spread worldwide and had caused about 17,000 deaths by the start of 2010. On August 10, 2010, the World Health Organization declared the H1N1 influenza pandemic over, saying worldwide flu activity had returned to typical seasonal patterns.[2]

The 1976 swine flu outbreak, also known as the swine flu fiasco,[1] or the swine flu debacle, was a strain of H1N1 influenza virus that appeared in 1976. Infections were only detected from January 19 to February 9, and were not found outside Fort Dix.[2] The outbreak is most remembered for the mass immunization that it prompted in the United States. The strain itself killed one person and hospitalized 13.[citation needed] However, side-effects from the vaccine caused five hundred cases of Guillain–Barré syndrome and 25 deaths.[3][4]


Penyakit flu burung atau flu unggas (Bird Flu, Avian Influenza) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas. Flu Burung adalah penyakit influenza pada unggas, baik burung, bebek, ayam, serta beberapa binatang yang lain seperti babi. Data lain menunjukkan penyakit ini bisa terdapat burung puyuh dan burung onta.

Penyakit ini menular dari burung ke burung, tetapi dapat juga menular ke manusia. Penyakit ini dapat menular lewat udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung atau unggas yang menderita influenza. Sampai saat ini belum terbukti adanya penularan dari manusia ke manusia. Penyakit ini terutama menyerang peternak unggas ( penyakit akibat kerja ).

 Epidemiologi
Penyebaran penyakit flu burung jelas melintasi batas negara; tetapi walau mewabah di benua Asia, penyakit ini merupakan penyakit eksotis (belum pernah ada ) di Indonesia.
Penyakit yang menjangkiti pekerja atau orang yang hidup di lingkungan peternakan unggas ini merupakan penyakit mematikan. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus avian infuenza jenis H5N1 pada unggas dikonfirmasikan telah terjadi di Korea Selatan, Vietnam, Jepang, Hongkong, Belanda, Thailand, Kamboja, Taiwan, Laos, China, Pakistan dan Indonesia. Sumber virus diduga berasal dari migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.
Jalur Pantura-Indonesia, khususnya Kabupaten Indramayu bisa saja termasuk daerah terjangkit virus penyebab penyakit flu burung karena wilayah udaranya selama ini menjadi jalur
lalu lintas jutaan burung setiap pergantian musim. Burung dari Australia atau Eropa, dalam perjalanan migrasinya yang menempuh ribuan kilometer, mengambil kepulauan Rakit
sebagai tempat peristirahatan atau transit. Pulau Rakit Utara, Gosong dan Rakit Selatan atau Pulau Biawak menjadi tempat persinggahan jutaan ekor burung yang tinggal cukup lama, 2 -
2,5 bulan, bereproduksi, kawin dan banyak yang sampai menetaskan telurnya.

Pada Januari 2004, di beberapa propinsi di Indonesia terutama Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat dilaporkan kejadian kematian ayam ternak yang luar biasa. Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh virus NewCastle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung / Avian influenza (AI). Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung di 10 propinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%); paling tinggi di propinsi Jawa Barat (1.541.427 ekor).

Kehebohan bertambah ketika wabah tersebut menyebabkan sejumlah manusia juga meninggal.
Pada 19 Januari 2004, pejabat WHO mengkonfirmasikan lima warga Vietnam tewas akibat flu burung.Sementara itu di negara Thailand sudah enam orang tewas akibat terserang flu burung, seorang anak berusia 6 tahun dipastikan menjadi orang Thailand pertama yang dikonfirmasi tewas akibat wabah tersebut. Epidemiologist dari Pusat Pengawasan Penyakit - Dr. Danuta Skowronski, mengatakan bahwa80% kasus flu burung menyerang anak-anak dan remaja.
Tingkat kematian akibat flu burung sangat tinggi. Di Vietnam, WHO menemukan bahwa 8 dari 10 orang yang terinfeksi meninggal, seorang sembuh dan seorang lagi dalam kondisi kritis.Jika dibandingkan dengan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) flu burung ini lebih sedikit kasusnya ; hanya dilaporkan 25 kasus di seluruh dunia dan yang meninggal 19 orang (Case Fatality Rate CFR=76%).

Sedangkan pada penyakit SARS dari 8098 kasus yang meninggal hanya 774 orang (CFR = 9,6%).Penelitian sementara (serosurvei) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan Dirjen P2MPLP, Depkes RI pada tanggal 1-3 Februari 2004 di sejumlah wilayah Indonesia Kabupaten Tangerang - Banten dan Kabupaten Tabanan & Karang Asem - Bali) belum menemukan kasus flu burung pada manusia. Melihat kenyataan ini seyogyanya masyarakat tidak perlu panik dengan adanya kasus flu burung di Indonesia, tetapi tetap waspada, terutama bagi kelompok yang berisiko karena di
negara lain virus ini telah menginfeksi manusia.
 Sumber: dari berbagai sumber

Tuesday, 26 October 2010

Basic Information about HIV and AIDS

What are HIV and AIDS?
Scanning electron microscope image of HIV virons on CD4 lymphocytes.
Electron microscope image of HIV, seen as small spheres on the surface of white blood cells.

HIV is the human immunodeficiency virus. It is the virus that can lead to acquired immune deficiency syndrome, or AIDS. CDC estimates that about 56,000 people in the United States contracted HIV in 2006.

There are two types of HIV, HIV-1 and HIV-2. In the United States, unless otherwise noted, the term “HIV” primarily refers to HIV-1.

Both types of HIV damage a person’s body by destroying specific blood cells, called CD4+ T cells, which are crucial to helping the body fight diseases.

Within a few weeks of being infected with HIV, some people develop flu-like symptoms that last for a week or two, but others have no symptoms at all. People living with HIV may appear and feel healthy for several years. However, even if they feel healthy, HIV is still affecting their bodies. All people with HIV should be seen on a regular basis by a health care provider experienced with treating HIV infection. Many people with HIV, including those who feel healthy, can benefit greatly from current medications used to treat HIV infection. These medications can limit or slow down the destruction of the immune system, improve the health of people living with HIV, and may reduce their ability to transmit HIV. Untreated early HIV infection is also associated with many diseases including cardiovascular disease, kidney disease, liver disease, and cancer. Support services are also available to many people with HIV. These services can help people cope with their diagnosis, reduce risk behavior, and find needed services.

AIDS is the late stage of HIV infection, when a person’s immune system is severely damaged and has difficulty fighting diseases and certain cancers. Before the development of certain medications, people with HIV could progress to AIDS in just a few years. Currently, people can live much longer - even decades - with HIV before they develop AIDS. This is because of “highly active” combinations of medications that were introduced in the mid 1990s.

No one should become complacent about HIV and AIDS. While current medications can dramatically improve the health of people living with HIV and slow progression from HIV infection to AIDS, existing treatments need to be taken daily for the rest of a person’s life, need to be carefully monitored, and come with costs and potential side effects. At this time, there is no cure for HIV infection. Despite major advances in diagnosing and treating HIV infection, in 2007, 35,962 cases of AIDS were diagnosed and 14,110 deaths among people living with HIV were reported in the United States.

Thursday, 21 October 2010

DIFTERI


Penyakit Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphteri. Terdapat 3 tipe yaitu: mitis, intermedius, dan gravis. Masa inkubasi antara 2-5 hari, masa penularan penderita  2-4 minggu sejak masa inkubasi, sedangkan masa penularan carrier bisa sampai 6 bulan.
Gambaran klinis: demam 38 , pseudomembranputih ke abu-abuan yang tak mudah lepas dan mudah berdarah di faring, laring atau tonsil, sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi (Bullneck) dan sesak napas disertai stridor. Diagnosis pasti jika didapatkan kuman difteri yang dilakukan melalui specimen apusan tenggorok (throat swab) yang di biakan.
Sumber penularan adalah manusia, baik sebagi penderita maupun sebagai carrier. Penyebaran melalui droplet infection dan difteri kulit yang mencemari tanah. Kekebalan diperoleh karena menderita sakit atau mendapat imunisasi. Kekebalan yang tinggi secara aktif melalui imunisasi DPT.
LANGKAH PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI (PE)
a.      Dasar: adanya kasus tersangka Difteri segera lakukan PE
b.      Tujuan: penegakan diagnosis, mengetahui besaran kasus, identifikasi factor resiko, investigasi kasus lain, penentuan arah pencegahan dan penaggulangan.
c.       Langkah Penyelidikan: Koordinasi melalui Tim Investigasi, siapkan administrasi, pengumpulan data
d.      Pengolahan dan penyajian data
e.      Analisa data
f.        Membuat laporan hasil penyelidikan.

Sunday, 17 October 2010

FILARIASIS

Di Indonesia berdasarkan survei tahun 2000-2004 terdapat lebih dari 8000 orang menderita klinis kronis Filariasis (Elephantiasis) yang tersebar di seluruh propinsi. Secara epidemiologi terindikasi lebih dari 60 juta penduduk Indonesia berada di daerah yanmg beresiko tinggi.
Perkembangan klinis Filariasis dipengaruhi oleh faktor kerentanan individu terhadap parasit, seringnya mendapat gigitan nyamuk, banyaknya larva infektif yang masuk ke dalam tubuh dan adanya infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur.
Pada dasarnya perkembangan klinis Filariasis tersebut disebabkan oleh karena cacing dewasa yang tinggal dalam saluran limfe menimbulkan pelebaran (dilatasi) saluran limfe bukan penyumbatan (obstruksi), sehingga terjadi gangguan fungsi sistem limfatik.
GEJALA KLINIS

Terdiri dari gejala klinis Akut dan Kronis.
Akut: berupa limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis, yang disertai demam, sakit kepala, lemah dan timbulnya abses.
Kronis: Limfedema, lym scrotum, kiluria, dan hidrokel.
TATALAKSANA KASUS KLINIS FILARIASIS
A. Pengobatan Kasus Klinis
Setiap kasus klinis di daerah endemis atau non endemis mendapatkan pengobatan:
1. Diberikan DEC 3x1 tab 100 mg selama 10 hari berturut-turut.
2. Apabila penderita berada di daerah endemis, maka pada tahun berikutnya baru boleh diikutsertakan dalam pengobatan massal dengan DEC, albendazol dan parasetamol sekali setahun, minimal 5 tahun secara berturut-turut. Penderita yang tinggal di daerah non endemik tidak melaksanakan pengobatan massal.
B. Perawatan Kasus klinis
1. Gejala  Klinis Akut: Istirahat yang cukup, banyak minum, pembersihan luka, dean mengatasi symtomatiknya.
2. Gejala Kronis: perawatan kasus dilakukan berdasarkan kondisi medis masing-masing kasus.
PECATATAN & PELAPORAN
a. Perekaman Status
b. Pemeriksaan Kemajuan Perawatan.
c. Pencatatan dan Pelaporan Data Kasus Filariasis

Thursday, 7 October 2010

CHIKUNGUNYA

Chikungunya is a mosquito-borne viral disease first described during an outbreak in southern Tanzania in 1952. It is an alphavirus of the family Togaviridae. The name ‘chikungunya’ derives from a root verb in the Kimakonde language, meaning "to become contorted" and describes the stooped appearance of sufferers with joint pain.
Signs and symptoms

Chikungunya is characterized by an abrupt onset of fever frequently accompanied by joint pain. Other common signs and symptoms include muscle pain, headache, nausea, fatigue and rash. The joint pain is often very debilitating, but usually ends within a few days or weeks. Most patients recover fully, but in some cases joint pain may persist for several months, or even years. Occasional cases of eye, neurological and heart complications have been reported, as well as gastrointestinal complaints. Serious complications are not common, but in older people, the disease can contribute to the cause of death. Often symptoms in infected individuals are mild and the infection may go unrecognized, or be misdiagnosed in areas where dengue occurs.
Transmission

The virus is transmitted from human to human by the bites of infected female mosquitoes. Most commonly, the mosquitoes involved are Aedes aegypti and Aedes albopictus, two species which can also transmit other mosquito-borne viruses, including dengue. These mosquitoes can be found biting throughout daylight hours, although there may be peaks of activity in the early morning and late afternoon. Both species are found biting outdoors, but Ae. aegypti will also readily feed indoors.

After the bite of an infected mosquito, onset of illness occurs usually between four and eight days but can range from two to 12 days.
Diagnosis

Several methods can be used for diagnosis. Serological tests, such as enzyme-linked immunosorbent assays (ELISA), may confirm the presence of IgM and IgG anti-chikungunya antibodies. IgM antibody levels are highest three to five weeks after the onset of illness and persist for about two months. The virus may be isolated from the blood during the first few days of infection. Various reverse transcriptase–polymerase chain reaction (RT–PCR) methods are available but are of variable sensitivity. Some are suited to clinical diagnosis. RT–PCR products from clinical samples may also be used for genotyping of the virus, allowing comparisons with virus samples from various geographical sources.
Treatment

There are no specific drugs to cure the disease. Treatment is directed primarily at relieving the symptoms, including the joint pain. There is no commercial chikungunya vaccine.
Prevention and control

The proximity of mosquito vector breeding sites to human habitation is a significant risk factor for chikungunya as well as for other diseases that these species transmit. Prevention and control relies heavily on reducing the number of natural and artificial water-filled container habitats that support breeding of the mosquitoes. This requires mobilization of affected communities. During outbreaks, insecticides may be sprayed to kill flying mosquitoes, applied to surfaces in and around containers where the mosquitoes land, and used to treat water in containers to kill the immature larvae.

For protection during outbreaks of chikungunya, clothing which minimizes skin exposure to the day-biting vectors is advised. Repellents can be applied to exposed skin or to clothing in strict accordance with product label instructions. Repellents should contain DEET (N, N-diethyl-3-methylbenzamide), IR3535 (3-[N-acetyl-N-butyl]-aminopropionic acid ethyl ester) or icaridin (1-piperidinecarboxylic acid, 2-(2-hydroxyethyl)-1-methylpropylester). For those who sleep during the daytime, particularly young children, or sick or older people, insecticide treated mosquito nets afford good protection. Mosquito coils or other insecticide vaporizers may also reduce indoor biting.
Disease outbreaks

Chikungunya occurs in Africa, Asia and the Indian subcontinent. Human infections in Africa have been at relatively low levels for a number of years, but in 1999-2000 there was a large outbreak in the Democratic Republic of the Congo, and in 2007 there was an outbreak in Gabon.

Starting in February 2005, a major outbreak of chikungunya occurred in islands of the Indian Ocean. A large number of imported cases in Europe were associated with this outbreak, mostly in 2006 when the Indian Ocean epidemic was at its peak. A large outbreak of chikungunya in India occurred in 2006 and 2007. Several other countries in South-East Asia were also affected. In 2007 transmission was reported for the first time in Europe, in a localized outbreak in north-eastern Italy.
More about disease vectors

Both Ae. aegypti and Ae. albopictus have been implicated in large outbreaks of chikungunya. Whereas Ae. aegypti is confined within the tropics and sub-tropics, Ae. albopictus also occurs in temperate and even cold temperate regions. In recent decades Ae. albopictus has spread from Asia to become established in areas of Africa, Europe and the Americas.

The species Ae. albopictus thrives in a wider range of water-filled breeding sites than Ae. aegypti, including coconut husks, cocoa pods, bamboo stumps, tree holes and rock pools, in addition to artificial containers such as vehicle tyres and saucers beneath plant pots. This diversity of habitats explains the abundance of Ae. albopictus in rural as well as peri-urban areas and shady city parks. Ae. aegypti is more closely associated with human habitation and uses indoor breeding sites, including flower vases, water storage vessels and concrete water tanks in bathrooms, as well as the same artificial outdoor habitats as Ae. albopictus.

In Africa several other mosquito vectors have been implicated in disease transmission, including species of the A. furcifer-taylori group and A. luteocephalus. There is evidence that some animals, including non-primates, may act as reservoirs.

Friday, 1 October 2010

PENDEKATAN KLINIK ACUTE ONSET OF FLACCID PARALYSIS

1. Pendahuluan
Diiperlukan suatu surveilans untuk menentukan apakah masih ada kasus klinik kelumpuhan karena virus polioliar. Untuk itu, dilakukan deteksi terhadap seluruh kasus yang mengalami Acute Onset of Flaccid Paralysis yang sering disebut dengan akronim AFP atau lumpuh layu Akut. AFP merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab. Secara klinis, kasus AFP yang berat dapat dikenal dengan mudah, sedangkan kasus yang ringan lebih sulit dikenal.
2. Kelumpuhan : flasid dan spastik
Kelumpuhan adalah berkurangnya kekuatan otot untuk menggerakkan anggota badan dan kelumpuhan total disebut sebagai paralisis, sedangkan kelumpuhan parsial disebut sebagai paresis. Kekuatan otot harus ditentukan derajat kekuatannya dan menurut Lovetts digunakan skala Council sebagai berikut:
5 : kekuatan otot normal, tidak ada kelumpuhan, mampu melawan beban maksimal(Normal)
4 : kekuatan otot tersebut mampu melawan gaya gravitasi dan beban (Good)
3 : terdapat kontraksi otot yang mampu menggerakkan sendinya dan mampu melawan
gravitasinya (Fair)
2 : terdapat pergerakan sendi seluas gerak sendinya akibat kontraksi otot penggerak utama
sendi yang bersangkutan, tetapi dengan menghilangkan gaya gravitasinya (Poor)
1 : tidak ada pergerakan sendi tetapi teraba/tampak adanya kontraksi otot (Trace)
0 : tidak ada kontraksi sama sekali (Zero)
AFP adalah sindroma klinik dengan berbagai penyebab. Para klinisi harus dapat mendeteksi
kelumpuhan / kelemahanyang menjadi dasar kasus AFP

Pendekatan Klinik AFP
Pemeriksaan Manual Muscle Test [MMT] sangat bermanfaat didalam penentuan diagnosa derajat kelumpuhan apapun sebabnya.
Tonus
Tonus otot adalah tahanan muskuler ( diluar pengertian penyakit sendi dan gaya gravitasi); yang dirasakan oleh pemeriksa bila melakukan manipulasi berupa gerakan sendisecara aktif pada seorang penderita . Tonus otot dikatakan normal apabila hanya dijumpai sedikit sekali tahanan pada
seluruh pergerakan sendi. Tonus otot yang berkurang bila tahanan gerakan yang dilakukan pemeriksa berkurang. Hilangtnya tonus otot yang jelas disebut sebagai tonus otot yang
flasid atau layu. Sedangkan hipertonia dikatakan bila tahanan otot meningkat, dapat berupa spastisitas atau rigiditas.
Kelumpuhan Lower Motor Neuron
Pada AFP didapatkan kelumpuhan yang flasid; yang kita kenal sebagai kelumpuhan lower motor neuron yang disebabkan lesi mulai dari motor neuron kornu anterior sampai ke saraf perifer. Kita kenal pula kelumpuhan upper motor neuron yang disebabkan kelainan pada jaras piramidalis dari kortek motorik
sampai dengan kornu anterior medulla spinalis.
III. Manifestasi Klinis AFP
Anak anak.
Beberapa pemeriksaan dapat dilalukan untuk rnembantu
menetapkan kondisi klinik penderita:
􀂙 Dapat disertai demam atau tidak
􀂙 Dapat disertai rasa nyeri atau tidak
􀂙 Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah ia pincang atau tidak.
􀂙 Mintalah anak berjalan pada ujung jari dan pada tumit, anak yang mengalami kelurnpuhan tidak dapat
melakukannya.
􀂙 Mintalah anak berjongkok atau duduk dilantai, kemudian bangun kembali. Anak yang mengalami
kelumpuhan akan menunjukkan adanya tanda dari Gower yaitu rnencoba berdiri dengan
berpegangan dan merambat pada tungkainya.
􀂙 Bila anak berbaring di tempat tidur, mintalah dia mengangkat kaki kemudian menahan tungkai diudara.
Dan mintalah untuk menggerakan pergelangan kaki & jari-jari kaki, pergerakan ujung jari ke arah
kepala.
􀂙 Tungkai yang mengalami lumpuh layu mengecil. Bila tidak yakin ukurlah lingkar betis kanan dan kiri
pada ketinggian yang sama.
􀂙 Refleks lutut dan pergelangan kaki berkurang atau negative demikian juga tidak dijumpai adanya retlek
patologis.
􀂙 Kadang dapat disertai gangguan miksi dan defekasi.

Bayi
􀂙 Dapat didahului dengan demam atau tidak. Rasa nyeri sulit diketahui.
􀂙 Seringkali sulit mendeteksi apakah seorang bayi sedang mengalami kelumpuhan. Pendekatan Klinik
AFP
􀂙 Perhatikan posisi saat tidur terlentang. Bayi normal menunjukkan tingkah
dalam posisi fleksi di dan di panggul. Bayi lumpuh menunjukkan frog leg position. Tungkai terkulai
lemas dan lutut menyentuh tempat tidur.
􀂙 Perhatikan gerakan kedua tungkai. Bila terdapat kelumpuhan gerakan sisi tersebut kurang bila
Dibandingkan sisi yang sehat. Bila kelumpuhan terjadi pada kedua tungkai gerakan kedua tungkai
berkurang
􀂙 Untuk merangsang gerakan dapat digelitik pada telapak kaki atau ditusuk
perlahan dengan benda yang agak tajam misalnya pensil. Bayi yang normal akan menarik kakinya.
􀂙 Pegang kedua pergelangan dan gerakan kedua tungkai ke depan dan kebelakang. Rasakan perbedaan
ketegangan otot.
􀂙 Angkat kedua tungkai dari permukaaan tempat tidur lalu lepaskan. Bayi normal akan memperlihatkan
sedikit tahanan sebelum tungkai jatuh ketempat tidur atau bahkan dapat menahan tungkai di udara.
Pada kelumpuhan, tungkai akan jatuh ke tempat tidur tanpa tahanan.
􀂙 Lakukan uji pendulum. Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan Bayi normal memperlihatkan gerakan
simetris tungkai disertai sedikit f1eksi lutut dan pangkal paha. Bayi yang lumpuh memperlihatkan
tungkai tergantung lemas tanpa gerakan.
􀂙 Lihatlah apakah dijumpai atrofi otot. Atrofi yang ringan sulit dilihat, gunakanlah pengukur untuk
mengukur lingkar betis pada ketinggian yang sama.
􀂙 Reflek Iutut dan pergelangan kaki berkurang atau negatif; reflek Babinsky pada bayi < 18 bulan
kadang masih timbul.
IV. Penyebab AFP
AFP dapat terjadi pada:
-Acute anterior poliomyelitis
+Disebabkan karena virus polio
+Disebabkan karena virus neurotrophik lainnya: coxsackie virus, echovirus dan enterovirus 70 dan71
-Acute myopathy
+Proses Desak Ruang:pembuntuan mielum; misalnya akibat abses paraspinal; tumor atau hematoma
+Mielopati transvesus idiopati yang akut
-Peripheral neuropathy
+Guillain Barre syndroma
+Neuropati demielinating yang akut
+Neuropati aksonal yang akut
+Pasca pemberian vaksin rabies
+Neuropati dalam perjalanan penyakit seperti difteria, rabies, Lyme, borrelios, intoksikasi logam berat,
toksin biologis
AFP dapat terjadi akibat berbagai penyakit Penyakit sistemik
+Porpiria intermiten akuta +Neuropatia pada penyakit yang kritis
-Kelainan transmisi neuron akibat
+Miastenia gravis +Gigitan ular +Botulisrne +Intoksikasi insectisida +Tick paralisa
-Kelainan otot
+Miopathia Inflamasi yang Idiopatis +Trichinosis +Hipokalemia dan hiperkalernia paralisa, termasuk familial periodic paralysa.